Thursday, 15 October 2015

Rekayasa Di Balik Kesuksesan Go-jek

Rekayasa Di Balik  Kesuksesan Go-jek


Go-jek.
Gojek Sebuah badan usaha yang mensinergikan bisnis transportasi, Kirim Mengirim Barang, dan dalam waktu dekat Gojek akan menambah ranah bisnis Ke Kendaraan Roda empat yaitu  akan memkoordinir para sopir Mobil sewaan yang berbasis jasa Angkut dan Pengantar barang, dengan schame pembayaran sama dengan Gojek Roda 2 .
Sebuah trobosan bisnis yang cukup Cerdas, diera ekonomi yang cukup mencekik, lapangan pekerjaan yang sulit di dapat, pendapatan yang mulai terasa kurang dari kebutuhan. Gojek adalah salah satu solusi bagi masyarakat menengah kebawah sebagai salah satu penopang ekenomi yang di harapkan, gojek juga salah satu transportasi alternative bagi mereka yang sangat menghargai waktu di antara padatnya jalan-jalan di Jabodetabek. 

Buat kamu yang tinggal di kota Jakarta, terlebih di kawasan Jakarta Selatan, tentu tidak asing dengan kata yang satu itu. Go-jek. Bahkan, ketika menyebutnya, bisa jadi kamu langsung membayangkan pengendara-pengendara motor berseliweran mengenakan jaket dan helm hijau bertuliskan “Go-jek”.

 Tidak usah malu, saya pun langsung membayangkan nya setiap kata Gojek saya dengar atau sebut. Memang, brand awareness yang luar biasa sudah berhasil dilakukan oleh Gojek. Kita harus akui itu. Namun, sudah kah kamu tahu bahwa ada rekayasa-rekayasa dibalik cerita sukses Gojek belakangan ini ?
Rekayasa yang saya maksudkan disini adalah rekayasa sosial (Social Engineering) yang Gojek lakukan di masyarakat. Gojek berhasil mendesain, menerapkan, merekayasa tidak hanya sudut pandang sosial namun juga gaya hidup bertransportasi masyarakat. Baik itu para driver nya, maupun para pengguna jasa Gojek. Sebuah rekayasa yang, berani saya bilang, jeniu.

Saya melakukan riset lapangan langsung dengan berinteraksi dengan para driver Gojek. saya mengajak mereka bicara, berdiskusi, mendengarkan semangat dan harapan mereka. Saya menyadari, bahwa berkat rekayasa yang diterapkan, ada senyum-senyum mengembang orang-orang baik ini.

Berikut saya paparkan fakta-fakta nya

Fakta 1: Mekanisme pendaftaran Gojek

Buat kamu yang tertarik mendaftar jadi Gojek Driver, ada beberapa persyaratan khusus yang harus dipenuhi. Dari segi administrasi misalnya, calon driver harus membawa foto kopi SIM, STNK dan Kartu Keluarga ke salah satu kantor Gojek yang berlokasi di Jalan Bangka Raya, Jakarta Selatan. Setelah melengkapi administrasi, kemudian dilakukan pengecekan kondisi fisik motor lalu tes wawancara.
 Kemudian setiap calon driver akan menjalani training, diantara nya soal penggunaan aplikasi Gojek Driver dalam smartphone, pelayanan pelanggan, hingga safety riding.
Selepas itu, jika diterima, akan langsung dilakukan penandatanganan kontrak. Jaket dan helm pun akan dipinjamkan. Untuk masker dan hair cover dapat diambil di kantor Gojek di Wolter Monginsidi, sedangkan handphone di kantor Gojek di jalan Ciasem.
Sungguh rekayasa sosial yang begitu santun telah dilakukan oleh Gojek. Tidak hanya mengedukasi para calon driver agar tertib administrasi, Gojek juga memberikan value terhadap para driver mengenai teknologi, customer service, hingga keselamatan berkendara.




Fakta 2: Tidak semua Gojek driver sebelumnya adalah tukang ojek

Awalnya saya juga mengira begitu. Namun, 3 dari 3 Gojek driver yang menjadi narasumber tulisan ini ternyata tidak pernah ngojek sama sekali sebelum bergabung dengan Gojek
Saya ikut Gojek awalnya karena mau dapet penghasilan buat biaya skripsi saya, Mas. Gaenak minta sama ibu soalnya saya nambah 1 tahun kuliah nya. – Kata bang Andi, Gojek yang ternyata adalah seorang mahasiswa tingkat akhir di Fakultas Ekonomi Universitas Pancasila
Awalnya saya Debt Collector, nagihin hutang kartu kredit, tapi sekarang mah yang ditagih malah lebih galak. Lagipula, saya kasihan sama anak istri saya. Bulan Juni ini saya rencana mau resign dari pekerjaan nagih hutang saya. – Kata pak Syahrul, Gojek saya sewaktu ke mal ambassador. Selama perjalanan entah berapa kali beliau mengucapkan terimakasih kepada Gojek atas perubahan yang diberikan. Beliau bahkan mengaku berkat Gojek, tahun ini bisa membelikan baju baru untuk anak istri
Saya Gojek cuma malam, Mas. Kalau pagi sampai siang, saya jualan gas. Yah, lumayan mas, cari-cari 100 ribu juga malem di Gojek dapet. Hitung-hitung buat jajan anak. – Kata mas Yono, Gojek saya dari Pondok Labu ke Mampang malam itu.
Di kemudian hari saya juga berkenalan dan mendengar cerita bahwa ada Gojek driver yang berprofesi sebagai karyawan swasta, sopir pribadi, hingga ibu rumah tangga.
Selepas saya turun dari Gojek, pak Syahrul mengajak saya untuk ikut serta menjai driver Gojek. Tawaran yang cukup menggugah. Hehe.

Fakta 3: Konversi per kilometer Gojek adalah 4 ribu rupiah

Ini yang menyebabkan tarif Gojek menjadi lebih murah dari tarif ojek pangkalan. Di Gojek, tarif perkilometer sudah distandarkan. Di ojek pangkalan, tatacara penetapan tarifnya tidak jelas. Orang Jawa sering bilang tarifnya ” Mukul “. Ada yang secara kasar malah bilang tarif nya preman.
Pengalaman saya, selisih tarif antara Gojek dan ojek pangkalan bisa mencapai 15 ribu rupiah. Sayang sekali, semenjak saya merasakan naik Gojek, saya tidak pernah lagi menggunakan jasa ojek pangkalan.
Saya adalah manusia yang masih manusiawi, manusia yang juga realistis dan ekonomis. Mungkin, begitu juga dengan puluhan ribu pengguna layanan Gojek.

Fakta 4: Gojek berhasil meningkatkan pendapatan para pelakunya

“Ternyata lebih dari 70 persen waktu kerja tukang ojek hanya menunggu pelanggan, ditambah kemacetan Jakarta.”
Itu adalah pernyataan yang dikeluarkan CEO Gojek, Nadiem Makarim.
Memang benar, dengan adanya Gojek, para driver tidak perlu (melulu) ada di pangkalan. Mereka cukup memantau aplikasi Gojek yang dimiliki jika ada customer yang minta di jemput-antar. Karena tidak perlu mengetem, mangkal, maka driver Gojek memiliki efisiesnsi waktu, yang pada akhirnya meningkatkan potensi pendapatan.
Dengan begitu pula, para Driver dapat pula memanfaatkan waktunya mengerjakan hal lain. Semisal mas Andi yang berkuliah, atau mas Yono yang menjadi agen gas itu. Bisa juga misalnya mengasuh anak, menemani istri, hingga berwirausaha.
Dari hasil penelususan, pak Syahrul yang sebelumnya Debt Collector itu, memiliki pendapatan hingga 8 juta/bulan. Syukurlah.




Fakta 5: Untuk setiap 10 customer, Gojek Driver akan mendapatkan bonus

Saya strategi nya sih, kalau pagi-siang saya ambil yang deket-deket dulu. Kalau langsung ngegas yang jauh, kita udah keburu capek. Nah, kalau malam, lumayan dah tuh 2-3 kita bisa dapet. – Kata pak Syahrul. Beliau mengaku bonus yang ditawarkan adalah 50 ribu rupiah.
Inikah alasan kenapa para driver Gojek tampak begitu bersemangat dan bahagia ?
Cerita Gojek
Kebahagiaan Gojek Driver

Fakta 6: Uang dibayar perbulan adalah mitos, kenyataannya uang hasil ng-Gojek bisa diambil harian

Dari salah satu tulisan artikel yang saya baca (saya lupa, kalau tidak salah di blog seseorang/kompasiana) , disebutkan disitu bahwa salah satu keengganan ojek pangkalan bergabung ke Gojek, selain karena “alergi dengan teknologi”, adalah karena penghasilan dari Gojek baru bisa diambil bulanan seperti orang gajian kantoran.
Penulis artikel itu ternyata salah atau setidaknya kurang dalam melakukan riset.
Faktanya adalah, setiap penghasilan yang didapatkan oleh driver Gojek, langsung di debit kan ke rekening driver masing-masing. Bank yang digunakan adalah bank CIMB Niaga. Dan driver dapat mengambilnya secara harian mana suka. Pembagian keuntungannya adalah 80 untuk driver dan 20 untuk manajemen Gojek.
Fakta tersebut saya dapatkan dari cerita langsung para driver Gojek, tentu saja.
(UPDATE, Dari Timotius Aswin : Saya cuma bs kasih info kenapa CIMB Niaga. Hal ini dikarenakan CIMB Niaga punya produk namanya rekening ponsel, yang mana menjadikan nomor hp sebagai rekening. Hal ini mempermudah kinerja driver gojek, jadi ga perlu bawa atm. Mau ambil duit tinggal ke atm cimb terdekat, kirim sms, dan uang bisa diambil melalui mesin atm. )

Fakta 7. Smartphone yang digunakan dan provider seluler

Kedua hal ini mungkin sering luput dari para pengguna layanan Gojek dan memang terkesan sepele: jenis smartphone dan provider seluler yang digunakan para Gojek driver adalah seragam.
Untuk smartphone, mereka menggunakan smartphone bermerek ZTE. Smartphone ini mereka angsur sebesar 7 ribu rupiah selama 100 hari atau 50 ribu rupiah selama seminggu hingga mencapai harga 700 ribu rupiah. Smartphone ini diberikan di awal ketika seseorang resmi menjadi Gojek Driver.
Sedangkan untuk provider layanan seluler nya, mungkin banyak orang tidak sadar bahwa seluruh nomor Gojek driver yang digunakan untuk menghubungi pelanggannya adalah nomor dari provider SimPATI. Nomor tersebut diberikan bersamaan dengan smartphone ZTE dan langsun diberi modal pulsa sebesar 100 ribu.
Saya pribadi masih belum menemukan jawaban kenapa harus menggunakan ZTE dan SimPATI ? Kenapa pula harus menggunakan layanan bank CIMB Niaga ?
Dugaan saya adalah terkait kerjasama investor antara Gojek dengan ketiga pihak tersebut. Walaupun memang sampai sekarang, Gojek belum memberikan keterangan resmi terkait siapa investor mereka. Layak kita nanti.


Friday, 2 October 2015

Politik Uang: Dampak Buruk, Pesan Bagi Kandidat dan Masyarakat serta Solusinya

Dampak buruk politik uang



Telah berlalu pada tulisan “Politik Uang: Kandidat Beri, Timses Fasilitasi, Pemilih Nikmati, Laknat Dinanti” bahwa politik uang adalah haram dan melakukannya berdosa, karena termasuk suap-menyuap (risywah) demi mendapatkan jabatan. Laknat Allah dan Rasul-Nya dalam politik uang berlaku bagi kandidat penyuap, tim sukses yang menjadi fasilitator suap itu dan pemilih yang meminta/mengambil suap.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الرَّاشِىَ وَالْمُرْتَشِىَ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemberi risywah (yang menyuap) dan penerima/peminta risywah (yang disuap).” (HR. Abu Daud no. 3582, At-Tirmidzi no. 1386, Ahmad no. 6689 dari sahabat Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma. At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.)

Dalam riwayat lain:

لَعَنَ اللهُ الرَّاشِي وَ الْمُرْتَشِي وَ الرَّائِشَ الَّذِيْ يَمْشِيْ بَيْنَهُمَا

Allah melaknat yang menyuap, yang disuap dan perantara yang menghubungkan keduanya.” (HR. Ahmad 2/279, Al-Hakim no. 7068, Al-Bazzar no. 1353, Ath-Thabraniy dalam Al-Kabir no. 1415. dari sahabat Tsauban radhiallahu ‘anhu. Al-Haitsamiy berkata dalam Al-Majma’ (4/198) bahwa dalam riwayat ini ada Abu Al-Khaththab dan dia majhul. Sanad hadits ini dinilai hasan oleh Al-Munawiy dalam At-Taisir bi Syarh Ash-Shaghir (2/292) dan Al-‘Ajluniy dalam Kasyf Al-Khafa’ 2/186 (2048))

Selain laknat Allah dan Rasul-Nya bagi pelakunya, suap-menyuap seperti politik uang juga memiliki dampak buruk yang lain, di antaranya:
  1. Tumbuhnya akhlaq dan mental buruk orang yang terlibat di dalamnya maupun generasi setelahnya, seperti ambisius terhadap kekuasaan, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan sekalipun haram.
  2. Penguasa muncul bukan karena kualitas dan kompetensinya, melainkan karena uang yang diberikannya. Akibatnya pemerintahan diisi oleh orang yang tidak qualified namun gila kekuasaan.
  3. Maraknya korupsi karena para penyuap ingin mengembalikan modal suap yang keluar saat pemilu.
  4. Tersebarnya perilaku nista, lenyapnya akhlaq yang baik, kezhaliman terhadap kaum lemah, sebagian masyarakat menganiaya sebagian yang lain.
  5. Dampak terburuk adalah segera datangnya adzab dan kemurkaan Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ تَعَالَى لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِى الآخِرَةِ مِثْلُ الْبَغْىِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ

Tidak ada dosa yang paling pantas untuk disegerakan siksaannya oleh Allah Ta’ala terhadap pelakunya di dunia, di samping yang Allah siapkan baginya di akhirat, seperti dosa ‘al-baghyu’ (melampui batas) dan memutuskan silaturrahim” (HR. Abu Daud no. 4904, At-Tirmidzi no. 2700, Ibnu Majah no. 4351 dan Ahmad no. 20911 dari sahabat Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu)
Dan suap termasuk ‘al-baghyu’ (melampui batas).
Pesan untuk para kandidat

Ada beberapa hal yang perlu diingatkan kepada para kandidat dalam pemilu:
  1. Ingatlah peringatan di atas soal dosa dan laknat Allah dan Rasul-Nya bagi para pemberi suap.
  2. Masyarakat telah banyak belajar dari pemilu-pemilu terdahulu. Mereka paham bahwa kandidat penyuap justru tidak boleh dipilih karena mereka adalah calon koruptor yang berbahaya jika berkuasa. Karenanya, para kandidat harusnya berpikir bahwa uang mereka harusnya tidak disalurkan dengan cara demikian karena sudah tidak efektif untuk menarik simpati, selain memang itu cara haram.
  3. Seandainya pun ada pemilih yang mau menerima suap, belum tentu mereka akan benar-benar memilih penyuapnya. Tak sedikit dari mereka yang justru berkhianat.
  4. Pendidikan agama di masyarakat Indonesia saat ini sudah berkembang. Masyarakat jadi paham para penyuap adalah pelaku dosa. Stigma negatif itu akan terus melekat di ingatan, saat si kandidat penyuap kalah, menang dan berkuasa, bahkan sampai akhir kekuasaan dan di masa pensiunnya.
  5. Banyak kandidat dalam pemilu yang memberikan uangnya tidak tepat sasaran. Tak jarang uang jatuh ke tangan ‘lawan’. Akibatnya, uang hilang percuma dan tidak sesuai harapan. Contohnya ‘serangan fajar’ yang terkadang uangnya jatuh ke tangan seorang pemilih, namun pemilih tersebut sudah mengantongi nama kandidat lain untuk dipilih.
  6. Jika politik uang ini diketahui lawan dan si kandidat pelaku suap terpilih dalam pemilu, maka itu bisa menjadi senjata lawan yang kalah untuk mengajukan pembatalan hasil pemilu. Tertuang dalam Peraturan Pemerintah No. 151, bahwa kepala daerah terpilih harus menghadapi masa uji publik selama 3 hari. Dalam masa itu, kandidat terpilih bisa djatuhkan dengan menyodorkan bukti politik uang yang dilakukannya di masa pemilu.
  7. Tak sedikit kandidat yang kalah akhirnya menghabiskan hidupnya di rumah sakit jiwa.
  8. Orang yang gila kekuasaan hingga menghalalkan segala cara termasuk suap akan menyesal nanti di hari dimana penyesalan sudah tidak berguna.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الإِمَارَةِ ، وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Sesungguhnya kalian akan mengejar kekuasaan lantas menyesal di hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 7148 dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْىٌ وَنَدَامَةٌ إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِى عَلَيْهِ فِيهَا

Sesungguhnya kekuasaan itu adalah amanah, dan ia pada hari kiamat menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mendapatkan kekuasaan itu dengan haknya dan melaksanakan kewajibannya dalam masa kekuasaannya.” (HR. Muslim no. 4823 dari sahabat Abu Dzar radhiallahu ‘anhu)


Pesan untuk masyarakat
Melalui tulisan ini, penulis juga ingin mengingatkan masyarakat beberapa hal penting sebagai berikut:
  1. Ingatlah peringatan soal dosa dan laknat Allah dan Rasul-Nya bagi para penerima suap dan orang yang menjadi perantaranya.
  2. Kandidat yang melancarkan politik uang sesungguhnya adalah calon pejabat yang bermental rendah dan tidak berkualitas.
  3. Orang yang memenangkan pemilu dengan politik uang biasanya saat berkuasa akan berusaha membuat kebijakan yang menguntungkan dirinya, walaupun harus dengan mengambil uang rakyat (korupsi). Tujuannya agar ‘kembali modal’.
  4. Ketika kalah, tidak jarang kandidat penyuap meminta kembali barang-barang dan uang yang telah mereka suapkan kepada masyarakat. Penulis pernah mendapati seorang caleg yang kalah meminta kembali karpet dan sound system yang telah ia sumbangkan ke masjid karena sakit hati.
Solusi jitu terhadap politik uang
Banyak solusi yang ditawarkan oleh berbagai elemen yang berkecimpung dalam dunia politik dan hukum, yang dianggap dapat menghilangkan praktek politik uang.
Contohnya:
  1. Meningkatkan peran pengawasan yang selama ini dilakukan Panwaslu.
  2. Menindak pidana semua yang terlibat di dalamnya.
  3. Membuat slogan-slogan sindiran seperti democrazy sebagai pengganti demokrasi.
  4. Membuat program TV dan radio serta rubrik di media cetak yang menyuarakan anti suap.
Sayangnya, sebagian solusi yang diajukan, semisal peningkatan peran panwaslu dan hukuman pidana, hanya sekedar wacana dan sangat sulit dijalankan, mengingat para pelaku suap dalam pemilu (kandidat, partai, politisi, timses, masyarakat) dan penegak hukumnya sebenarnya memiliki simbiosis mutualisme (hubungan yang saling menguntungkan) dalam suap-menyuap.
Karenanya penulis mengajukan solusi lain yang bisa jadi efektif dalam perspektif agama, di antaranya:
  1. Mencetak tulisan-tulisan yang mengingatkan masyarakat tentang bahaya suap, seperti tulisan yang ada di tangan pembaca, setiap menjelang pemilu.
  2. Mengajak para da’i dan khatib Jum’at untuk memperbanyak ceramah dan khutbah seputar risywah (suap) khususnya menjelang pemilu.
Dua langkah ini merupakan bentuk amar ma’ruf nahi munkar dalam masalah pemilu (politik) yang merupakan muara datangnya penguasa. Kemungkaran dalam pemilu seperti politik uang harus ada yang menjelaskannya, karena bencana bagi bangsa akan terus ada jika kemungkaran itu dibiarkan merajalela.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الْمُنْكَرَ لاَ يُغَيِّرُونَهُ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابِه

Jika manusia telah melihat kemungkaran lantas tidak mengingkarinya, maka dekatlah Allah meratakan adzab-Nya terhadap mereka.” (HR. Abu Daud no. 4340, At-Tirmidzi no. 2321, Ibnu Majah no. 4140, Ahmad dari sahabat Abu Bakar As-Shidiq radhiallahu ‘anhu)
Semoga Allah merahmati bangsa ini dengan menyadarkan mereka bahaya suap menyuap dalam pemilu dan menganugerahkan mereka dengan pemimpin yang baik di masa mendatang.

Friday, 18 September 2015

Hal Baik Perlu Dipoles



Semua hal baik, butuh diperjuangkan. Karena itu, jangan pernah mundur oleh halangan dan tantangan, sebab dengan “polesan” ujian dan cobaanlah, kita akan jadi pemenang sejati kehidupan.


Banyak orang yang mendambakan kesuksesan. Tapi, sering kali kurang menyadari, bahwa untuk mencapai kesuksesan, semua butuh proses, butuh waktu, dan butuh diperjuangkan. Hal ini mengingatkan saya pada pepatah Tiongkok Kuno yaitu Hǎo shì duō mó yang arti harfiahnya adalah “Hal baik perlu dipoles”.

Ada banyak contoh nyata di dunia bahwa apa yang menjadi baik, mahal, indah, semua pasti mengalami proses yang kadang sangat sulit. No pain, no gain adalah pepatah yang sangat pas untuk menggambarkan “polesan” yang diperlukan oleh setiap insan untuk bisa jadi sesuatu yang bernilai di kehidupan masing-masing orang.

Tembikar atau keramik yang sangat indah terbentuk dari proses dibakar dan dipoles bukan hanya sekali dua kali saja. Atau, lihat juga kristal kaca nan cantik. Jika melihat prosesnya, kristal itu dibentuk dengan dibakar, dibentuk, dibakar, dibentuk lagi, dibakar, dibentuk lagi, begitu seterusnya hingga diperoleh bentuk yang diinginkan. “Polesan” melalui bakaran dan bentukan yang kemudian ditimpa dengan pendinginan itulah yang membuat kristal nan cantik bisa menjadi kristal mahal yang punya nilai seni tinggi. Tanpa “penderitaan” dengan dibakar pada suhu sangat panas, ia hanya akan jadi kaca biasa yang kurang bernilai.

Polesan-polesan semacam inilah yang sebenarnya kerap kali akan kita temui sejak lahir hingga kematian menjemput. Coba ingat berapa kali kita terjatuh saat hendak belajar jalan. Kita juga sering kali berdarah kala ingin belajar sepeda. Saat remaja, dewasa, bekerja, hingga akhirnya tua dan meninggal, tak ada satu pun proses yang “mudah” yang kita jalani. Semua pasti mengalami “polesan” kesulitan dengan derajat penerimaannya masing-masing. Namun, kita bisa menjadikannya “mudah” saat kita justru menjadikan semua itu pembelajaran bagi kita. Sehingga, kita akan tumbuh jadi insan yang kuat dan mampu menjadi sosok yang dapat mengarungi berbagai ujian.

Saya sendiri mengalami banyak momen yang menjadi sarana “polesan” diri hingga menjadi seperti saat ini. Satu hal yang saya ingat adalah di masa kecil saya ketika hidup dalam kondisi kekurangan. Waktu itu, untuk mendapat air bersih guna diminum, kami harus menunggu air menetes di atas jam 12 malam. Sebab, air bersih yang keluar dari saluran air tidak muncul di siang hari.

Saat itulah, sembari menunggu tetesan—bukan kucuran—air, agar sampai penuh satu ember saja butuh waktu satu jam lebih, adalah waktu yang sangat membosankan. Tapi, di sinilah komitmen kita diuji. Karena itu, di tengah waktu menunggu, saya memilih untuk memanfaatkan waktu untuk memoles diri. Kala itu di Malang, saat malam cuaca juga sangat dingin. Karena itu, guna mengusir rasa dingin dan kantuk, kungfu menjadi sarana olahraga yang saya rasa paling pas untuk dilakukan. Di sinilah, tanpa saya sadari, potensi dan kekuatan diri terus dipoles. Saat menghadapi penderitaan—karena harus menunggu air bersih—saya justru berkembang dari sisi kemampuan diri, utamanya kungfu. Hingga, akhirnya, kungfu ini jugalah yang menjadi salah satu sarana sukses saya mewujudkan impian menjadi aktor laga di Hongkong.

“Polesan” semacam itulah yang barangkali masing-masing orang punya kisah tersendiri. Dan, tergantung pada masing-masing orang jugalah, bagaimana ia menyikapi masa polesan itu. Ada yang memilih menggerutu, menyikapi dengan biasa-biasa saja, atau ada pula yang menjadikan itu sebagai sarana belajar yang bisa jadi bekal kehidupannya. Karena itu, semua tergantung pada diri kita, bagaimana akan menyikapi setiap hal yang kita temui.

Saya ingat sebuah kisah yang saya dengarkan turun-temurun, yakni kisah tentang kakek yang hendak memindahkan bukit.

Suatu ketika, seorang kakek bertekad untuk memindahkan bukit untuk memudahkan ia bercocok tanam dan mengaliri air untuk ladangnya. Namun, tekad itu justru dilecehkan oleh orang lain. Sebab, tindakan itu dianggap hanya akan menghabiskan waktu dan nyaris sia-sia. Namun, Sang Kakek tetap menjalankan kegiatannya.

Kakek itu bertekad, bahwa ia suatu saat pasti mampu mengerjakan itu semua, walaupun sendirian saja. Maka, hari demi hari, ia terus menggali dan menggali. Ia berusaha memindahkan secangkul demi secangkul tanah bukit itu. Tanpa terasa, hari, minggu, bulan, dan tahun berlalu. Ia yang terus giat menggali dan memindahkan tanah itu—meski pelan—sedikit demi sedikit mulai berhasil memindahkan sebagian bukit itu hingga ia lebih mudah mengaliri ladangnya dengan air.

Melihat itu, banyak orang tersadar. Bahwa yang dilakukan kakek itu benar dan bisa dijalankan. Maka, mereka pun berduyun-duyun mulai melakukan hal yang sama. Hingga, akhirnya pekerjaan itu pun berhasil dijalankan dengan waktu yang relatif lebih singkat.

Kisah itu menggambarkan, bahwa niat dan hal baik memang butuh diperjuangkan. Begitu juga dalam hidup kita. Mungkin saja, hari ini kita dilecehkan, dijatuhkan, diremehkan, atau disia-siakan dengan apa yang sedang kita perjuangkan. Tapi ingat, hǎo shì duō mó , hal baik perlu dipoles. Jika dilandasi dengan ketulusan, perjuangan yang terus kita lakukan, pasti akan memberikan hasil yang maksimal.

Kata Kata Bijak Soe Hok Gie..



  • Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I? Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar: kebenaran.
  • Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah.
  • Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan Dewa dan selalu benar, dan murid bukan kerbau.
  • Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.
  • Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.
  • Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi "manusia-manusia yang biasa". Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia.
  • Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun.
  • Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.
  • Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan, sejarah tidak akan lahir?
  • Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan, terhadap pengkhianatan, terhadap segala-gala yang non humanis…
  • Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah.
  • Bagi saya KEBENARAN biarpun bagaimana sakitnya lebih baik daripada kemunafikan. Dan kita tak usah merasa malu dengan kekurangan-kekurangan kita.
  • Potonglah kaki tangan seseorang lalu masukkan di tempat 2 x 3 meter dan berilah kebebasan padanya. Inilah kemerdekaan pers di Indonesia.
  • To be a human is to be destroyed.
  • Saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin.
  • Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.
  • I’m not an idealist anymore, I’m a bitter realist.
  • Saya kira saya tak bisa lagi menangis karena sedih. Hanya kemarahan yang membuat saya keluar air mata.
  • Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan.
  • Saya tak tahu mengapa, Saya merasa agak melankolik malam ini. Saya melihat lampu-lampu kerucut dan arus lalu lintas jakarta dengan warna-warna baru. Seolah-olah semuanya diterjemahkan dalam satu kombinasi wajah kemanusiaan. Semuanya terasa mesra tapi kosong. Seolah-olah saya merasa diri saya yang lepas dan bayangan-bayangan yang ada menjadi puitis sekali di jalan-jalan. Perasaan sayang yang amat kuat menguasai saya. Saya ingin memberikan sesuatu rasa cinta pada manusia, pada anjing-anjing di jalanan, pada semua-muanya.
  • Tak ada lagi rasa benci pada siapapun. Agama apapun, ras apapun dan bangsa apapun. Dan melupakan perang dan kebencian. Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.

Wednesday, 16 September 2015

Do’a Perempuan Tua

Pada suatu waktu di pulau Jawa, seorang perempuan tua yang sangat miskin tinggal di sebuah gubuk bambu dan jerami. la tidak memiliki apapun kecuali sebuah panci. Perempuan itu mengumpulkan kayu di hutan untuk dijual, begitulah ia menghidupi dirinya.
Suatu hari ia terbangun dan merasa sangat lemah, tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan bekerja. Hari sudah larut, matahari membakar panas di langit, tetapi ia mencoba bangun dan tertatih-tatih keluar mulai mencari kayu bakar.
Tidak lama kemudian ia tiba di sebuah dasar sungai yang kering. Di sana ia melihat sebuah genangan kecil, tiga ekor ikan berjuang untuk tetap hidup. Perempuan tua itu sangat gembira, ikan-ikan itu bisa menjadi makanan yang baik. Tetapi ketika ia membungkuk untuk memungut mereka, ia mendengar mereka berdoa. “Allah, tolong,” kata ikan terengah, “kirimlah hujan agar kami bisa hidup. Terpujilah Allah!”
Perempuan itu mengerenyit. Aneh betul mendengar ikan berdoa kepada Allah, selain itu, sungguh doa yang bodoh. Bagaimanapun juga, ini musim kering. Tetapi tepat pada saat itu juga, awan gelap berkumpul entah dari mana. Hujan deras mengguyur dasar sungai yang kering; genangan air berubah menjadi air yang mengalir, dan ikan-ikan itu berenang pergi!
Ketika melihat ini, perempuan itu memutuskan bahwa jika Allah menjawab doa ikan, maka ia juga akan menjawab doanya. la bergegas pulang, duduk di alas tikarnya, memejamkan mata dan mulai berdoa. “Allah, tolong, kirimi aku koin agar aku bisa membeli nasi. Aku berdoa kepadamu, Allah, tolong, jawablah doaku.”
Suaranya semakin teguh, doanya semakin saleh. “Aku sedang sekarat karena lapar, Allah. Tolong kirim aku koin.”
Sepanjang hari ia berdoa, tanpa henti, bahkan ketika matahari terbenam dan terbit kembali. Ketika berdoa, kata-katanya menjadi mantera, dan mantera itu semakin lama semakin keras sampai semua orang yang tinggal di dekatnya bisa mendengar kata-katanya.
Para tetangga takjub pada ketekunan perempuan tua itu, dan pada gilirannya membangkitkan ketekunan mereka juga. Tetapi seorang tetangga perempuan itu, seorang pedagang yang kaya, adalah seorang pria yang pelit. Ketika ia mendengar doa perempuan itu, ia merasa terganggu. Akhirnya ia mengetuk pintu perempuan tua dan berteriak, “Hentikan doamu. Tidakkah kamu lihat bahwa Allah tidak peduli padamu?”
Tetapi perempuan itu nyaris tidak mendengarnya, ia begitu tekun pada doanya, begitu teguh pada kepercayaannya bahwa Allah akan menjawab. Ini membuat pria itu marah. “Hentikan sekarang jugal” teriaknya. la memukul pintu, dan ketika tindakan itu juga tidak mempan, ia melempar batu ke gubuknya.
“Hentikan! Aku tidak tahan mendengar suaramu!” Tetapi perempuan tua itu terus berdoa, dari hari ke hari.
Di akhir minggu, tetangganya yang pedagang itu memutuskan apa yang akan ia lakukan. la mengisi sebuah karung besar dengan pecahan kaca, keramik, lilin-lilin bekas, paku karatan dan sampah. Kemudian ia memanjat ke atas gubuk perempuan tua, melubangi atap jerami dan menjatuhkan karung melalui lubang, ke atas kepala perempuan tua itu. Ketika karung itu menimpa kepalanya, perempuan tua itu jatuhpingsan, dan pedagang menarik nafas lega, karena pada akhirnya suaranya lenyap.
Esok paginya, perempuan tua terbangun, dan ketika membuka mata, ia melihat sebuah karung di sisinya. Di dalamnya ia menemukan ratusan koin emas.
“Allah telah menjawab doakul” teriaknya, dan sejak saat itu ia hidup nyaman, selalu menolong orang yang membutuhkan. la tahu bahwa setiap orang, kapanpun, bisa menjadi miskin dan membutuhkan, dan ia tidak menginginkan nasib ini jatuh pada siapapun.
Ketika pedagang mendengar berita ini, pada mulanya ia tidak percaya dan kemudian ia menjadi marah. la memutuskan bahwa ia harus lebih kaya. la memerintahkan pelayannya untuk mengisi karung dengan pecahan kaca, pecahan keramik dan segala sesuatu yang lain yang tidak terpakai yang bisa ia temukan. “Lebih bagus lagi,” kaca pedagang, “isi dua karung. Aku akan duduk dan berdoa selama seminggu. Di akhir minggu, aku ingin kamu menjatuhkan karung-karung ini melalui atap ke dalam rumahku.”
Lalu pedagang itu duduk di lantai, memejamkan mata dan berdoa, dengan cermat ia menyelaraskan kata-kata mantera yang sama seperti yang telah dikatakan oleh perempuan tua itu, dengan cermat ia mengatur suaranya agar mencapai surga, sama seperti suara perempuan tua itu.
Hanya ada satu perbedaan dalam doa mereka. Ketika perempuan tua itu berdoa, ia percaya Allah akan menjawab doa-doanya. Tetapi ketika pedagang itu berdoa, ia hanya memimpikan banyak benda yang bisa dibeli oleh kekayaannya. la membayangkan kain-kain yang indah, permata yang berkilauan, kuda-kuda yang kuat. Dan ia terus mengkhayal.
Di akhir minggu, pelayannya menjatuhkan dua karung batu dan sampah melalui sebuah lubang di atap. Karung-karung itu menimpa pedagang dan membuatnya pingsan, jadi ia berbaring tidak sadarkan diri semalaman.
Di pagi hari, ketika ia bangun, kepalanya berdenyut-denyut, ia segera membuka karung pertama. Bayangkan keterkejutannya ketika ia menemukan bahwa karung itu berisi bebatuan, sampah dan pecahan gelas. la segera meraih karung kedua dan membukanya. Karung itu juga penuh dengan sampah.
“Allah, apa yang telah engkau lakukan?” teriak pria itu. Berjam-jam ia hanya mengutuk Allah dan menangis. Ketika tetangga dan orang yang lewat mendengar kata-katanya, mereka menjadi marah. Meskipun ia pernah menjadi pedagang yang sukses, sekarang tidak seorangpun man membeli barang-barangnya. Dan segera saja ia jatuh miskin, semiskin perempuan tua itu dulu.
Orang-orang mengatakan bahwa akhirnya perempuan tua itulah yang menyelamatkannya, tetapi itu cerita untuk hari esok.
Kesimpulan : ” Doa yang dapat terkabul adalah doa yang disertai dengan keikhlasan dan ketulusan hati “.

7 Rahasia Mendidik Anak

1.Jika melihat anakmu menangis, jangan buang waktu untuk mendiamkannya. Coba tunjuk burung atau awan di atas langit agar ia melihatnya, ia akan terdiam. Karena psikologis manusia saat menangis, adalah menunduk.

2.Jika ingin anak-anakmu berhenti bermain, jangan berkata: “Ayo, sudah mainnya, stop sekarang!”. Tapi katakan kepada mereka: “Mainnya 5 menit lagi yaaa”. Kemudian ingatkan kembali: “Dua menit lagi yaaa”. Kemudian barulah katakan: “Ayo, waktu main sudah habis”. Mereka akan berhenti bermain.
3. Jika engkau berada di hadapan sekumpulan anak-anak dalam sebuah tempat, yang mereka berisik dan gaduh, dan engkau ingin memperingatkan mereka, maka katakanlah: “Ayoo.. Siapa yang mau mendengar cerita saya, angkat tangannya..”. Salah seorang akan mengangkat tangan, kemudian disusul dengan anak-anak yang lain, dan semuanya akan diam.
4.Katakan kepada anak-anak menjelang tidur: “Ayo tidur sayang.. besok pagi kan kita sholat subuh”, maka perhatian mereka akan selalu ke akhirat. Jangan berkata: “Ayo tidur, besok kan sekolah”, akhirnya mereka tidak sholat subuh karena perhatiannya adalah dunia.
5.Nikmati masa kecil anak-anakmu, karena waktu akan berlalu sangat cepat. Kepolosan dan kekanak-kanakan mereka tidak akan lama, ia akan menjadi kenangan. Bermainlah bersama mereka, tertawalah bersama mereka, becandalah bersama mereka. Jadilah anak kecil saat bersama mereka, ajarkan mereka dengan cara yang menyenangkan sambil bermain.
6.Tinggalkan HP sesaat kalau bisa, dan matikan juga TV. Jika ada teman yang menelpon, katakan: “Maaf saaay, saat ini aku sedang sibuk mendampingi anak-anak”. Semua ini tidak menyebabkan jatuhnya wibawamu, atau hilangnya kepribadianmu. Orang yang bijaksana tahu bagaimana cara menyeimbangkan segala sesuatu dan menguasai pendidikan anak.
7.Selain itu, jangan lupa berdoa dan bermohon kepada Allah, agar anak-anak kita menjadi perhiasan yang menyenangkan, baik di dunia maupun di akhirat.
Tausyiah dr Ustdz Farid Ahmad” …

LEIDEN IS LIJDEN: BELAJAR LEADERSHIP DARI KELUARGA KECIL IBRAHIM A.S

  Hisahito Rahmat Dakwansyah Ketika kita bicara kepemimpinan, pikiran kita sering melayang pada sosok yang memimpin negara, memenangi pepera...